Assalaamu'alaikum sobat! Hidup ini indah maka hiduplah dengan sebenar-benarnya hidup. Lalu, kenapa kita bikin susah? Bukannya memprovokasi untuk malas lho sobat. Tapi "susah" disini berarti malas untuk menuju hidup yang indah. Bingung?! Simak deh...
Betapa kerasnya sebuah perjuangan seorang kuli dalam menghidupi keluarganya, tanpa lelah dia mengangkat barang-barang berat. Betapa beratnya perjuangan seorang pemulung, tanpa lelah dia mengumpulkan sampah-sampah. Betapa rumitnya perjuangan seorang staff akuntan, tanpa lelah dia menghitung angka-angka yang tak terhitung.
Inilah secuil gambaran perjuangan setiap orang dalam bidangnya. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi kebahagiaan keluarga. Namun, apakah benar keluarga mereka bahagia dengan jerih payah mereka? Banyak diantara mereka kerja hingga larut malam tanpa memperhatikan bagaimana seorang anak butuh akan sebuah perhatian khusus dari ayahnya. Bagaimana istri bisa bahagia, sedangkan sang kekasih menuangkan cintanya hanya untuk pekerjaan. Hanya orang bodoh yang menganggap kebahagiaan hanya berdasarkan parameter harta. Toh, nanti kita mati, dan tidak mungkin kita membawa harta-harta kita yang telah kita kumpulkan dengan payah.
Terlebih lagi apabila seseorang telah melupakan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bayangkan saja, apabila kita memiliki seorang pembantu rumah tangga, dan sang pembantu tidak ada patuhnya sama sekali dengan kita, apakah kita marah? Yang jelas pasti kita marah terhadapnya. Padahal setiap bulan kita memberi upah kepada sang pembantu. Apa yang terjadi apabila kita jadi sang pembantu? Pasti kita sudah terusir dari rumah sang majikan. Enaknya jadi pembantu jika sudah dipecat adalah masih bisa untuk cari pekerjaan lain.
Nah, kita sekarang bicara pada lingkup seorang hamba. Allah SWT adalah Sang Pemilik segala sesuatu. Setiap detik kita diberi nikmat oleh-Nya. Setiap detik oksigen selalu tersedia. Mau minum air tinggal minum. Dan masih banyak nikmat Allah SWT yang tidak bisa disebutkan, termasuk nikmat hidup sekali. Coba bayangkan? Ketika anda marah karena sang pembantu tidak patuh. Apakah anda terbayang dengan murka Allah? Padahal kita ini milik Allah. Sedangkan pembantu bukan siapa-siapa anda.
Gitu aja kok susah. Konsep penghambaan diri kepada Allah sudah menjadi hal yang sakral dan tidak boleh diremehkan. Kita hanya seorang jongos dihadapan Allah, bahkan lebih hina lagi. Bedanya jongos dengan kita itu terletak di kenikmatan. Jelas beda, nikmat kita sangatlah berlimpah ruah tak terhitung sedangkan jongos tidak. Kesamaannya adalah kita sama-sama wajib mematuhi kepada perintah pemilik kita. Ya kalau untuk si jongos pemiliknya level raja lah. Lah kita? Level Tuhan, Level Pemilik jagat raya!! Tinggal patuh aja sama perintah Allah kok masih beralasan. Sibuk inilah. Sibuk itulah. Jangan sok sibuk deh! Sibukin diri untuk patuh sama Allah aja lah!
Makanya, kalo kerja jangan cari yang fulltime. Cari yang menyisakan waktu untuk Allah, untuk keluarga, untuk bersosial. Gampang aja! Jangan mudah mencari alasan sok sibuk. Apalagi alasan yang nggak ada tingkat ke-mutu-annya, yaitu "malas". Namanya aja godaan.
Ayo sobat! Maju terus! Seekor elang akan kehilangan insting memangsanya jika hidup dikandang. Begitu juga dengan kita, kita hanya butuh sebuah insting untuk melangkah. Jangan terpaku dengan hal yang tidak penting, yang tidak membawa maslahat.
Gimana sobat? nggak bingung lagi kan? semoga aja nggak. Dan semoga bermanfaat, setidaknya merubah sudut pandang sobat. Wassalaamu'alaikum.
Abu Tufaiq
Jogja, 13 Januari 2012


0 comments
Poskan Komentar